Pemilihan Metode Transfer Pricing
a CUP (Comparalble Uncontrolled Price Method)
Metode CUP tidak dapat diterapkan atas pembelian Wajib Pajak karena tidak ada data pembanding yang andal atas pembelian. CPI hanya membeli barang dagangan dari PTTI. CPI tidak membeli barang yang serupa dari penjual pihak ketiga. Data terperinci mengenai transaksi independen antar b. RpiPhaMk (kReteigsaaliendPerpiecnedMenetyhaondg)diperlukan untuk menerapkan metode CUP eksternal tidak tersedia secara umum.
Meskipun CPI melakukan kegiatan penjualan kembali (reselling), Wajib Pajak menyatakan bahwa pengujian sifat kewajaran dan kelaziman usaha dari transaksi pembelian CPI pada tingkat laba kotor mungkin tidak sesuai. Akibat perbedaan kebijakan akuntansi, perbedaan standar akuntansi, dan perbedaan alokasi biaya dan pengeluaran antar negara.
c. CPM (Cost Plus Method)
CPI tidak memiliki transaksi internal yang dapat dianggap sebagai transaksi sebanding. Begitu pula dengan eksternal CPM tidak dapat diterapkan karena: 1. Basis biaya untuk penerapan mark-up biasanya tidak sebanding dan dapat menyebabkan distorsi, 2. Perbedaan dalam produk, fungsi, dan strategi usaha perusahaan pembanding eksternal, 3. Sejumlah Sejumlah penyesuaian yang wajar dapat dilakukan sebagai kompensasi atas d kPeSkMura(PngroafnitkSespelibtaMndeitnhgoadn)tersebut, namun hal tersebut dapat berdasar kepada asumsi dan menyebabkan hasil yang tidak dapat diandalkan.
PSM akan sangat sulit diterapkan, karena metode ini memerlukan identifikasi kunci alokasi yang tepat untuk mendistribusikan laba berdasarkan pembagian fungsi, aset, dan risiko antara CPI dan pihak-pihak afiliasinya.
e. TNMM (Transactional Net Margin Method)
TNMM adalah metode yang dipilih oleh Wajib Pajak dalam menerapkan transaksi dalam hubungan istimewa karena tingkat kesebandingan yang diperlukan dalam penerapan TNMM tidak setinggi penerapan metode transaksi tradisional. Analisis laba bersih juga lebih fleksibel karena jika terdapat perbedaan fungsional yang berpotensi memengaruhi laba kotor dapat dikompensasi di tingkat laba operasional bersih.
Pemilihan Profit Level Indicator
Berdasarkan penentuan karakteristik fungsi, CPI menganggap rasio ROS (Return of Sales) sebagai PLI yang sesuai, karena faktor utama penentu profitabilitas CPI adalah margin dari pendapatan penjualan.
Peneliti telah memilih metode RPM sebagai metode yang paling sesuai untuk digunakan oleh CPI, sehingga PLI tidak digunakan. Harga wajar dalam penerapan RPM ditentukan dengan mengurangkan harga jual kepada pihak independen atas suatu produk yang dibeli dari perusahaan afiliasi dengan suatu laba kotor yang wajar (resale price margin). Laba kotor yang wajar tersebut mencerminkan kompensasi atas fungsi-fungsi yang dijalankan oleh pihak reseller untuk menutupi semua biaya-biaya yang dikeluarkannya. Dari hasil pengurangan tersebut akan diperoleh suatu harga wajar atas transaksi pembelian di antara pihak afiliasi. Dengan demikian, perhitungan yang digunakan adalah :
Harga wajar = Harga jual kembali – Laba kotor yang wajar untuk reseller
Hasil Pengujian Penerapan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha yang dilakukan oleh Wajib Pajak
1 Pembelian
- Tested Party adalah Wajib Pajak sendiri
- Proses pencarian pembanding
* WP menggunakan database Osiris
* Seluruh perusahaan dengan ekuitas yang tercatat di bursa
* Seluruh perusahaan dengan indikator independensi "A", "A+" atau "A-" disertakan
* Seluruh perusahaan yang memiliki akun-akun terkonsolidasi
* Seluruh perusahaan dalam wilayah Timur Jauh, Asia Tengah dan Asia Tenggara
* US SIC codes yang dipilih :
- Wholesale trade, durable goods
- Wholesale trade, nondurable goods
- Building materials, hardware, garden supply, and mobile home dealers
- General merchandise stores
- Food stores
- Automotive dealers and gasoline service stations
- Apparel and accessory stores
- Home furniture, furnishings, and equipment stores
- Eating and drinking places
- Miscellaneous retail
* Mencari perusahaan di dalam set dengan teks penjelasan usaha yang mengandung katakata kunci berikut: “plastic*”,“container*”,“houseware*”,“utensil*”,“consumer*”,“toy*”
* Memilih perusahaan yang terdaftar sebagai “aktif” dalam status operasi mereka
* Menual Review : menolak 270 perusahaan. Hasilnya, teridentifikasi 6 perusahaan yang dijadikan pembanding